Oksimeter, Kenapa Banyak Dicari dan Tips Membeli

Diposting pada

oksimeter

Oksimeter menjadi salah satu alat kesehatan yang banyak dicari di era pandemi Covid-19. Setidaknya hal ini menjadi pengalaman penulis ketika menjadi oksimeter di sebuah apotik di dekat rumah sakit terkemuka.

“Ada oksimeter, mbak,” tanya saya.

“Wah lagi kehabisan,” jawab si mbak penjual.

Lalu si penjual menjelaskan pada saya, oksimeter memang banyak dicari dan laku banget. Dia meminta saya untuk datang lagi keesokan harinya.

Saya akhirnya memutuskan untuk membeli barang ini secara online saja, daripada harus datang lagi. Toh lokasi saya masih di sekitar Jakarta, banyak pedagang online yang menjual barang ini di seputaran Jakarta.

Apa sih sebenarnya Oksimeter ini? Kenapa banyak diburu di saat pandemi Covid-19? Gini penjelasannya, guys.

Sejak akhir tahun 2019 dunia digegerkan dengan munculnya penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Di Indonesia, penyakit yang telah ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini pertama kali dikonfirmasi pada 2 Maret 2020. Hingga saat ini jumlah penduduk yang positif terinfeksi semakin bertambah, meski prosentase kesembuhannya juga semakin meningkat.

Berbicara tentang Covid-19, tentu ada beberapa gejala yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, seperti demam, nyeri tenggorokan, hingga sesak napas. Bahkan, ada pula gejala-gejala lain yang tidak disadari, misalnya saja hilangnya kemampuan indera penciuman dan pengecap. Menariknya, ada pula pasien yang positif terinfeksi hingga meninggal, padahal tidak mengalami gejala-gejala tersebut. Ternyata, beberapa kasus kematian tanpa gejala disebabkan oleh happy hipoxia.

Mengenal Happy Hipoxia

Happy hipoxia atau juga dikenal sebagai silent hipoxemia adalah terjadinya penurunan jumlah oksigen dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala. Normalnya, saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah berada pada rentang 75-100 mmHg. Apabila kadar oksigen dalam darah berada di bawah normal, maka tubuh akan mengalami hipoksia atau hipoksemia yang artinya kekurangan oksigen.

Baca juga: Sinopsis Passanger 57 (1992), Film Aksi Melawan Para Pembajak Pesawat

Umumnya para penderita hipoksia akan menunjukkan gejala, seperti sesak napas, kulit pucat, kuku dan bibir kebiruan, bahkan bila berlanjut bisa menyebabkan penurunan kesadaran. Pada penderita Covid-19 tanpa gejala, penderita akan terlihat baik-baik saja. Namun ketika menjalani pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan pulse oximeter, barulah terdeteksi bahwa kadar oksigen dalam darah penderita tergolong rendah.

Pada penderita Covid-19, penyebab terjadinya happy hipoxia belum bisa dipastikan. Beberapa teori menyebutkan bahwa kondisi ini terjadi karena paru-paru mengalami peradangan akibat infeksi virus SARS-CoV-2. Teori lain menyebutkan bahwa happy hipoxia disebabkan oleh sistem saraf yang bermasalah dalam mengatur saturasi oksigen dan fungsi pernapasan.

Apapun penyebabnya, yang pasti happy hipoxia dapat meningkatkan risiko kematian pada penderita Covid-19. Penanganan hipoksia yang tidak baik ataupun terlambat dapat menyebabkan kasus lain yang lebih serius, seperti kerusakan jaringan dan organ tubuh yang secara langsung akan menimbulkan gangguan fungsi organ.

Oksimeter sebagai Deteksi Dini Happy Hipoxia

Adanya penderita Covid-19 tanpa gejala membuat siapapun patut waspada. Meski tampak sehat dan tidak merasakan gangguan kesehatan apapun, bisa jadi seseorang rupanya telah menderita Covid-19. Maka dari itu, diperlukan deteksi dini terhadap potensi terjadinya happy hipoxia pada penderita Covid-19.

Salah satu cara deteksi hipoksia adalah dengan mengukur kadar oksigen dalam darah menggunakan oksimeter. Oksimeter digunakan untuk mengukur saturagi oksigen perifer dalam tubuh . Kadar oksigen dapat berubah-ubah setiap harinya, maka dari itu diperlukan pemeriksaan berkala untuk mengontrol saturasi oksigen.

Baca juga: 5 Film Wajib Tonton di Hari Valentine 2019

Oksimeter umumnya berukuran kecil dan mudah dibawa kemana saja. Cara penggunaannya cukup dipasang pada ujung jari, kemudian oksimeter akan mengukur kemampuan oksigen dalam mengikat sel darah merah. Apabila kadar oksigen dalam darah normal, maka oksimeter akan menunjukkan kisaran 95-100 persen.

Para penderita Covid-19 tanpa gejala disarankan untuk memiliki oksimeter untuk memantau saturasi oksigen secara pribadi. Pengukuran ini bisa dilakukan minimal sekali dalam sehari, sehingga apabila penderita mengalami hipoksia dapat ditangani lebih dini. Tak hanya penderita Covid-19 tanpa gejala, siapapun bisa menggunakan oksimeter untuk memeriksa saturasi oksigen masing-masing.

Selain sebagai deteksi dini happy hipoxia, oksimeter juga berguna untuk mengetahui status kesehatan secara mandiri. Melihat kegunaan oksimeter yang sangat penting di masa pandemi, tak heran jika alat pengukur saturasi oksigen ini banyak dicari di pasaran.

Hal ini juga disarankan oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Vito Anggarino Damay, yang menyarankan penderita Covid-19 bergejala ringan agar memiliki oksimeter di rumah.

“Seseorang yang happy hypoxia mungkin ada gejala yang ringan yang tidak disadari, bukan sama sekali tidak bergejala. Mungkin perlu sediakan di rumah untuk mereka yang menderita Covid-19 ringan yang isolasi mandiri,” saran Vito dikutip dari Antara.

Tips Membeli Oksimeter

Seiring dengan popularitas oksimeter yang melonjak, banyak jenis oksimeter yang dijual di pasaran dengan harga bervariasi. Dalam membeli, kita sebaiknya menjadi pembeli cerdas yang tidak asal saja memilih barang. Berdasarkan pengalaman penulis, berikut tips-tips yang dapat digunakan untuk membeli oksimeter.

1. Jangan asal pilih yang murah

Harga oksimeter bervariasi dari puluhan ribu hingga satu jutaan. Dalam kondisi kesulitan ekonomi di masa pandemi ini, kita tentunya akan cenderung mencari barang dengan harga murah. Oksimeter murah meriah yang kebanyakan dijual dari luar negeri tentu sangat menggoda iman.

Pastikan jangan hanya lihat harga murah. Salah-salah baru sekali dua kali pakai, oksimeternya rusak. Sedangkan kita membutuhkan barang ini dalam jangka panjang. Walau murah, tapi kalau harus membeli berkali-kali, tentu akhirnya jadi mahal pula dan nyampah di rumah.

Pengalaman penulis, oksimeter yang berkualitas harganya berkisar Rp100-Rp200 ribuan.

2. Lihat kualitas

Kualitas barang dapat diketahui dari review yang diberikan oleh pembeli lain. Berburu barang di marketplace lebih mudah karena kita bisa membandingkan dan melihat review pembeli lain. Kadang juga ada review oksimeter yang di blog-blog pribadi.

Tidak ada salahnya browsing dulu sebelum membeli untuk menentukan oksimeter berkualitas baik dengan harga terjangkau.

3. Bergaransi

Ketika pembeli memutuskan untuk membeli oksimeter Rp199 ribu dan mengabaikan oksimeter harga Rp20 ribuan sampai Rp50 ribu, hal itu karena ada garansi. Oksimeter yang penulis beli bergaransi selama satu tahun. Jadi pasti ada jaminan mutu.

***

Kesimpulan

Oksimeter banyak dicari karena kebutuhan masyarakat untuk mendeteksi dini gejala Covid-19 yang sangat berbahaya, yakni Happy Hipoxia atau penurunan saturasi oksigen tanpa gejala klinis. Hal ini juga telah disarankan oleh dokter dan untuk membeli oksimeter, perhatikan harga, kualitas dan garansinya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.