Joker Bukan Hanya Tentang Joker

Diposting pada

sinopsis joker

Penayangan film Joker sukses besar di pasaran. Film ini disebut-sebut berhasil mengangkat isu kesehatan mental ke permukaan. Alhasil sabda Joker “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” menjadi satu konklusi akar dari permasalahan lahirnya kejahatan.

Joker bukan film horor, tapi dianggap sangat menakutkan dan mengganggu. Sebagian menganggapnya tidak cocok untuk anak-anak dan hanya boleh disaksikan oleh penonton 21 tahun ke atas. Hal ini karena Joker berhasil menyentuh sisi yang mendalam dan dekat dengan hidup kita, memicu dan mengganggu.

Joker mengangkat fenomena bullying, kekerasan terhadap anak, trauma dan kota yang korup dan penuh kejahatan yang akhirnya melahirkan kerusuhan dan kekerasan massal. Dunia hiburan hanya panggung sandiwara, stand up comedy hanya pelipur lara orang-orang miskin dan orang tertawa di atas kepalsuan masyarakat yang sakit.

Cita-cita Joker sangat sederhana: ingin membuat orang selalu tersenyum. Joker sadar hidup ini penuh kepahitan dan dia ingin sedikit mengobati, lalu menemukan jalannya sendiri menuju pemberontakan dan menjadi penjahat.

Matinya para broker Wall Street dirayakan oleh orang-orang miskin di Gotham city. Pembunuhnya didaulat sebagai pahlawan, meskipun tentu saja Joker membunuh mereka bukan sebagai ekspresi dari sikap anti kapitalisme, melainkan sebagai bentuk pembelaan dirinya. Itulah mengapa Joker tidak mewakili narasi besar pahlawanisme ala film-film superhero atau Social Justice Warrior di dunia nyata. Joker hanya seperti seorang petani yang pasang badan dipukuli aparat untuk menghadang perampasan tanah atau seperti buruh yang berhenti kerja begitu saja karena upahnya terlalu murah. Joker spontan, reaktif dan intuitif dengan jalannya sendiri.

Di atas semua itu, Joker sebetulnya bukan hanya tentang Joker, tapi juga orang-orang di sekelilingnya, terutama orang-orang dekatnya. Siapa yang paling berkontribusi dari lahirnya Joker? Apakah para pembully? Atau bosnya di tempat kerja? Atau komedian yang diidolakannya, Murray Franklin? Atau orang kaya raya yang dia kira ayahnya, Thomas Wayne?

Mereka boleh jadi memiliki kontribusi, tapi kontribusi mereka tidak sebanding dengan pengkhianatan ibu Joker dan Randall, orang-orang dekat Joker, orang-orang yang dia percaya.

Baca juga: Sinopsis JOKER (2019)

Dari ibunya, Joker mendapatkan kekerasan saat dia masih kecil yang mungkin terlupakan, tapi tidak bagi alam bawah sadarnya. Alam bawah sadar kita memiliki mekanisme yang unik untuk merekam suatu kejadian. Menurut riset populer, 88 persen pikiran dan sikap kita dikuasai oleh alam bawah sadar, sebegitu kuatnya alam bawah sadar mempengaruhi kita sehingga kadang-kadang kita tidak bisa menjelaskan dari mana perilaku dan kebiasaan kita.

Joker melihat secercah harapan hidupnya akan lebih baik ketika dia mengetahui dari ibunya bahwa dia adalah anak dari Thomas Wayne. Tapi harapan itu dihempaskan seketika dengan dibumbui kesakitan yang sangat saat dia mengetahui menjadi korban kekerasan ibunya sewkatu dia kecil. Dia pasti berpikir kondisi mentalnya yang aneh adalah akibat dari trauma pukulan di kepalanya.

Randall juga sama, menawarkan persahabatan dan kebaikan. Dia memberikan Joker senjata untuk melindungi diri. Senjata yang akhirnya meletus membunuh tiga broker Wall Street yang menyadarkan Joker kenikmatan membunuh orang-orang yang dibencinya; senjata yang jatuh di hadapan anak-anak di rumah sakit yang membuat Joker dipecat, dan; senjata yang Randall tak akui sebagai pemberiannya, sebagai tanda perhatian Randall dan persahabatan mereka, saat situasi berubah menjadi buruk.

Randall malah mendatangi Joker demi menyelamatkan dirinya sendiri. Dia tidak mau terlibat, meskipun kontribusi Randall sangat besar dalam lahirnya kejahatan Joker. Dialah yang menyediakan senjata api. Mengapa perang di dunia ini tak pernah berakhir? Karena pabrik senjata masih ada, terus berproduksi dan mencetak keuntungan. Seperti itulah Randall bagi Joker.

Jelas saja Joker menjadi sangat marah dan membunuh Randall. Dia tak membunuh rekan kerjanya Gary yang bertubuh kerdil dan lebih lemah, meskipun dia bisa saja kalau dia mau. Dia malah membukakan pintu, dengan sadar membiarkan Gary pergi. Di sinilah momen yang memperlihatkan Joker bukanlah penjahat asal-asalan dalam membunuh korbannya, bukan sekadar dia jahat dan suka membunuh. Dia adalah penjahat yang membunuh dengan alasan pembelaan diri dan membalas pengkhianatan.

Di dunia nyata, kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat sangat familiar. Riset Universitas Barcelona pada tahun 2009 menunjukan pelaku kekerasan seksual sebanyak 60 persen dilakukan oleh orang-orang terdekat, termasuk orang tua, saudara, paman, pengasuh hingga tetangga. Sedangkan 10 persen adalah orang yang asing sama sekali.

Kejahatan orang terdekat lebih sakit dan memicu trauma mendalam daripada kejahatan orang yang asing sama sekali. Kesakitan menjadi alasan orang berbuat jahat, dan pada akhirnya, orang jahat adalah orang baik yang dikhianati oleh orang-orang dekatnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.